Sebuah Cerpen: PELURU NYASAR


Karya: Burung Gereja

“Apakah tidak ada jalan lain agar kamu dan istrimu bisa kembali bersama? Kasihan anakmu lho, lang.” Seorang perempuan tua menatap miris anak laki-laki semata wayangnya.
Gilang menatap ibunya dengan seksama. Ia dapat melihat mata perempuan tua yang dipanggilnya Ibu itu menyimpan harapan dan luka yang sama besarnya. Namun Gilang tidak tahu harus memulai semuanya dari mana. Bahkan Ia sendiri tidak memiliki harapan untuk dapat kembali membangun rumah tangganya setelah apa yang Ia ketahui. Lebih tepatnya, Ia tidak ingin rumah tangganya kembali.
*
lima tahun lalu Gilang pulang ke kampung halamannya sebagai seorang perwira kepolisian republik Indonesia. Bersamanya ia membawa seorang perempuan yang sudah dipacarinya tiga tahun belakangan. Gilang mengatakan pada ibunya kalau perempuan itu akan ia nikahi secepatnya, tinggal menunggu persetujuan dari Ibunya saja.
“Kamu tidak pernah memberi tahu ibu kalau kamu sudah punya pacar. Sekarang kamu bawa seorang perempuan dan bilang pada Ibu kalau kamu akan segera menikahinya. Ibu bingung mau menjawab apa, lang.”
“Bu, percayalah. Gilang memilih perempuan yang benar-benar Gilang cinta.” Gilang menggenggam kedua tangan ibunya. Gelombang harapan mengalir dari cahaya matanya.
“Gilang, anak Ibu. Sekarang hanya kamu satu-satunya yang Ibu punya. Ibu tahu diumur kamu yang sekarang seharusnya kamu sudah memiliki keluarga, tapi…”
“Bu, Gilang janji. Gilang janji sama Ibu kalau Gilang akan sering-sering pulang untuk melihat Ibu. Kalau perlu nanti Ibu ikut Gilang tinggal di Jakarta.”
Ibu tidak memberi jawaban. Ia hanya menatap Gilang yang sudah tumbuh besar dan berhasil mencapai mimpinya. Ia tidak pernah bisa menolak keinginan Gilang, bahkan ketika Gilang ingin menjadi seorang polisi, Ibunya hanya bisa menitip pesan agar Gilang tidak melupakan rumah, karena rumah adalah tempat di mana pribadi tumbuh dan menguraikan mimpinya untuk satu per satu dititih hingga semuanya menyatu kembali menjadi sebuah album cerita yang abadi.
Satu tahun setelah percakapan dengan Ibunya, Gilang melangsungkan pernikahannya di sebuah Gereja Katedral di kampung halamannya. Pernikahannya berlangsung sederhana dan hanya mengundang keluarga besar dan teman-teman dekat.
Satu tahun berselang istri Gilang, Ayunda Anastahsya, melahirkan seorang anak perempuan yang cantik. Anak perempuan itu diberi nama Angela Permatasari. Nama permatasari diambil dari nama belakang Ibu Gilang.
Tahun-tahun awal keluarga kecil Gilang berjalan dengan damai dan harmonis. Namun, saat Gilang dipromosikan sebagai anggota densus 88 Anti Teror mabes Polri. Suasana rumah berubah menjadi medan pertempuran. Berbagai masalah muncul dari mulai permasalahan mengurus anak sampai pada tugas-tugas rumah yang sebelumnya sudah dibagi secara adil.
“Kamu tahu kan hari ini jadwal kamu untuk jemput Angel di sekolah!” Suatu malam Ayunda memarahi Gilang yang baru saja pulang. “Kamu biarin dia nunggu lama di sana, kalau terjadi apa-apa sama Angel bagaimana? Untung kepala sekolahnya telpon dan aku lagi ga sibuk banget di kantor, jadi bisa jemput. Jangan sibuk di kepolisian melulu, ingat keluarga kamu. Ingat anak kita masih kecil.”
“Iya aku tahu, aku minta maaf. Hari ini komandan Poltak memintaku untuk membawa tim ke Grogol karena dikabarkan di sana ada kelompok teroris yang sedang bersembunyi.”
“Semuanya harus kamu yang lakuin? Apa tidak ada orang lain lagi selain kamu? Kalau misalnya terjadi sesuatu pada Angel tadi, kamu pilih mana?” Ayu meninggalkan Gilang yang terdiam di teras rumah.
Secara pribadi Gilang sadar tugasnya untuk melindungi negara perlu diimbangi dengan tugasnya di rumah, terutama untuk mengurus anaknya Angel yang masih kecil. Namun, kondisi saat ini tidak memungkinkan untuk melakukan hal itu. Jakarta dalam kondisi siaga teroris. Setelah bom sarinah, dikabarkan akan ada beberapa bom lagi yang akan terjadi dalam waktu dekat.
Sebagai anggota baru, Gilang sedang dalam masa on fire untuk melaksanakan berbagai tugas yang diberikan oleh komandan Poltak yang juga mejabat sebagai kepala densus 88.
“Sudahlah Lang, jangan stres gitu mukamu. Namanya juga baru punya anak. Kesibukkan kalian juga tidak bisa dihindari. Kau tenang sajalah. Aku pun merasakan yang sama saat anak pertamaku lahir.” Dony angkat suara ketika jam makan siang.
“Iya lang. Kau tahukan istriku Diandra itu cerewetnya seperti apa. Waktu anak pertamaku lahir dan aku jarang di rumah dia bilang gini, ‘Yogi. Kau selalu sibuk ngurusin negara. Anakmu kelaparan di rumah kau biarkan. Kalau kau terus-terusan seperti ini, keluar saja dari kepolisian.’ Walaupun istriku marah-marah, aku dapat meredamnya asalkan punya kesabaran.” Ega yang baru datang ikut-ikutan memberi pendapat.
Gilang hanya tertawa mendengar pernyataan senior-seniornya. Ia teringat Ibu dan almarhum Ayahnya, tentunya mereka pernah melewati masa-masa yang sama. Ia meyakinkan dirinya bahwa suasana yang sedang Ia hadapi adalah ujian bagi dirinya sebagai seorang ayah dan ia dapat melewatinya. 
“Lang, yang harus kau lakukan sekarang adalah berbicara empat mata dengan istrimu. Bilang padanya kalau Jakarta sedang siaga dan kau akan sibuk untuk melaksanakan tugasmu sebagai anggota densus 88. Bicarakan baik-baik dari hati ke hati.” Ega memberi saran. Gilang mengangguk setuju.
Namun, Gilang tidak mendapat respon baik dari Ayu ketika membicarakan masalah tugas dan keluarga. Ayu naik pitam dan menggebrak meja, alhasil kopi yang dihidangkan untuk gilang jatuh ke lantai dan pecah.
“AYU!. kamu ini apa-apaan sih! Aku ingin membicarakan ini secara baik-baik, kenapa kamu malah marah-marah.”
“Istri mana yang tidak marah-marah kalau suaminya hanya sibuk dengan kerjaan, kerjaan, dan kerjaan. Kamu harus sadar anak kita masih kecil, butuh dampingan kita dalam pertumbuhannya. Sudahlah, aku capek.” Ayu berbalik hendak menuju kamar.
“Hei!” Gilang menarik lengan Ayu. Dalam posisi saling berhadapan Gilang ingin sekali menampar Istrinya, namun ia menahannya.
“Kamu mau nampar aku? Silahkan, silahkan.” Ayu mencondongkan mukanya ke arah Gilang. Cukup lama Ayu melihat Gilang yang diam, ia meninggalkan Gilang.
Gilang membersihkan pecahan kaca di lantai sambil berpikir tentang suasana yang terjadi di dalam keluarganya. Amarah pada istrinya belum reda, namun Ia tidak bisa berbuat banyak karena kondisi tidak memungkinkan. Lagi-lagi kondisi yang membuatnya tidak seperti lelaki yang sejati, Ia tidak tegas. 
Ia sadar sejak Ia menjadi anggota densus 88, sikap Ayu berbuah 180 derajat. Apa yang salah dengan posisiku sebagai anggota densus 88? tanya gilang dalam hati.
Beberapa hari setelah pertengkaran malam itu, Gilang dipanggil komandan Poltak ke ruangannnya. Setelah menjelaskan panjang dikali lebar, komandan Poltak memerintahkan Gilang agar segera membentuk tim khusus untuk mengidentifikasi kelompok teroris yang dikabarkan akan melakukan aksi pemboman di beberapa gereja menjelang perayaan Natal.
“Siap, laksanakan!.” Gilang memandang Komandan Poltak yang tersenyum kepadanya. Setelah keluar dari ruang kerja komandan Poltak, Gilang menghembuskan nafasnya. Ia tahu tugas ini akan menyita banyak waktunya dan Ia belum siap, terutama kondisi keluarganya yang tidak berhenti seharipun dari pertengkaran. Ia tidak yakin.
Setelah memilih nama-nama anggota untuk tim khusus yang akan mengidentifikasi teroris, Gilang menuju mobilnya untuk pulang. Dalam perjalanan Gilang sibuk merangkai kata untuk berbicara dengan Ayu, Istrinya. Ia tidak ingin apa yang Ia bicarakan kelak akan mengungkit-ungkit masalah yang telah lalu. Ini tugasku sebagai penjaga negara, kata Gilang dalam hati.
Sesampainya di rumah Gilang terkejut melihat Ayu sedang mengobrol bersama seorang pria di teras rumah. Gilang tidak bisa melihat wajahnya karena pria tersebut memunggunginya. Sebelum keluar dari mobil, Gilang dapat melihat gerakan Ayu yang meminta pria itu untuk pergi.
Betapa terkejutnya Gilang saat berpapasan dengan pria tersebut. Pria tersebut adalah Anggara Dwi Pramodo, mantan Ayu yang dikabarkan pergi meninggalkan Ayu untuk melanjutkan pendidikannya di Australia. Namun Gilang tidak berpikir yang macam-macam tentang Anggara, apalagi sampai berpikir bahwa Istrinya berselingkuh.
“Yu, kita harus bicara.” Gilang membuka percakapan setelah merebahkan tubuhnya di hadapan Ayu. Gilang dapat melihat air muka Ayu yang tidak ingin berbicara padanya. “Aku mendapat tugas baru untuk mengidentifikasi teroris, Komandan Poltak yang memerintahkannya. Aku harap kamu bisa mengerti.”
“Aku bisa mengerti. Kerjakan saja tugasmu. Aku akan membawa Angel ke rumah neneknya di Bogor.”
Gilang terkejut. “Kenapa harus di bawa ke rumah kamu, Yu? Sekolahnya bagaimana?”
“Aku capek. Kamu terlalu sibuk dengan kerjaan kamu. Kamu tahu Angel tadi menangis karena ayahnya tidak datang untuk melihat pentas drama yang diadakan di sekolahnya. Kamu tahukan Angel menjadi pemeran utamanya. Kamu ingat!” Ayu kembali naik pitam.
Gilang terdiam. Mulutnya kelu. Ia ingat kemarin Angel memintanya untuk datang ke pentas drama sekolahnya. Tapi… dan lagi selalu ada dalih atas tindakan yang dilakukannya. Gilang tertunduk. Ia mentap kosong pada kakinya yang kaku.
“Kamu tenang saja, Angel akan ‘lebih’ aman bersamaku ketimbang bersamamu. Aku akan memindahan sekolahnya ke sana, kebetulan ada sekolah di dekat rumah. Nanti aku akan minta neneknya yang menjaganya.”
Percakapan itu berakhir tanpa ada yang bisa dimengeri oleh Gilang. Ia merasa ada sesuatu yang tidak Ia ketahui. Istriku menyimpan sesuatu? Hati Gilang bertanya. Namun, Ia membiarkan tanya itu melambung tinggi dan hilang diterbangkan angin. Ia tidak ingin berpikiran macam-macam tentang istrinya.
Ayu adalah pilihan terakhirnya setelah berbagai pengalaman tentang cinta yang Ia jejaki dari satu hati ke hati lainnya. Ia tidak mungkin memilih perempuan yang salah. Ia tahu Ayu bukanlah perempuan yang suka marah-marah.
“Semua manusia seturut perkembangan dirinya dan hal-hal yang Ia hadapi pasti berubah. Seperti kamu dulu yang manja kalau ditinggal Ibu dan almarhum Ayahmu, toh kamu sendiri yang akhirnya meninggalkan kami untuk melanjutkan mimpimu, kan?” suara Ibu diujung telpon melarutkan kekalutan di hati Gilang.
*
Hari pertama Gilang menjalankan tugas barunya, Ia tidak begitu bersemangat seperti biasanya. Ada pedang bermata dua yang menancap begitu dalam di hatinya. Sejak pagi sepeninggal istri dan anaknya ke Bogor, Gilang terus terbayang wajah mereka. Wajah yang selama ini adalah wajah-wajah yang dirindukannya sepulang bertugas.
Masih sempat terjadi pertengkaran sebelum istri dan anaknya naik ke mobil yang akan membawa mereka ke Bogor. Gilang tidak ingin memperpanjang pertengkaran itu, ia membiarkan dirinya bungkam. Untuk kesekian kalinya.
“Kamu itu bodoh, lang.” Ega menghardiknya. “Mana ada yang lebih baik kalau salah satu dari kalian saja yang menjaga anak kalian.”
Gilang menatap Ega bingung lalu mengalihkan pandangannya ke secarik surat yang ia timang-timang sejak tadi. Gilang menyerahkan surat itu ke Ega. “Ia meletakkan surat itu di meja makan.”
Ega membaca isi surat itu dengan seksama.

Aku sudah menunggu hari ini. Sudah lama sekali. Aku tidak perlu berbasabasi untuk menjelaskan apa maksudku menuliskan surat ini. Kau harus tahu bahwa Angela Permatasari bukanlah anak kandungmu. Ia adalah anak kandung dari hubunganku dan Anggara Dwi Pramodo. Kalau kamu mau marah, silahkan saja. Aku tidak peduli. Pada dasarnya aku tidak pernah peduli padamu. Aku pun tidak pernah menganggap pernikahan kita ada. Aku hanya ingin menghancurkanmu.

Ega menatap Gilang dengan tatapan prihatin. Ia tidak percaya istri Gilang yang sempat bertemu dengannya beberapa kali melakukan hal sekeji itu kepada Gilang. Ega menepuk pundak Gilang. “Sabar lang. Aku turut sedih.”
Gilang menatap kosong pada gelas teh di hadapannya. Ia telah memilih perempuan yang salah. Hatinya hancur berantakan seperti saat ia kehilangan ayahnya. Ia tidak pernah menyangka ia harus hancur untuk kedua kalinya.
“Apakah tidak ada jalan lain agar kamu dan istrimu bisa kembali bersama? Kasihan anakmu lho, lang.” Seorang perempuan tua menatap miris anak laki-laki semata wayangnya.
Gilang menatap Ibunya dengan seksama. Ia dapat melihat mata perempuan tua yang dipanggilnya Ibu itu menyimpan harapan dan luka yang sama besarnya. Namun Gilang tidak tahu harus memulai semuanya dari mana. Bahkan Ia sendiri tidak memiliki harapan untuk dapat kembali membangun rumah tangganya setelah apa yang Ia ketahui. Lebih tepatnya, Ia tidak ingin rumah tangganya kembali.
“Bu, dia bukan anakku. Dia anak dari hubungannya dengan mantan pacarnya.” Ibu meraih tubuh Gilang, memeluknya dari samping. “Maafkan aku yang tidak mendengarkan Ibu dari dulu. Seharusnya aku tahu apapun yang ibu katakan pasti memiliki dampak bagi apa yang aku jalankan. Sekarang semuanya sudah terbukti.”
“Sudah, lang. Cukup. Semuanya sudah terjadi, tidak ada yang perlu disesali.”
Handphone di meja tiba-tiba berbunyi. Gilang mengangkat telpon itu sambil sedikit merenggangkan pelukan ibunya.
“Gilang!. Pulang sekarang!. Beberapa gereja di bom dan terjadi penyanderaan.” Suara Komandan Poltak membuat mata Gilang terbuka lebar. Waktu berjalan begitu cepat bersama seluruh permasalahan dan tugas yang berada di pundaknya.
“Aku pulang sekarang!”
*
Gereja Bethel menghembuskan asap tebal dan api berkobar di beberapa bagiannya. Di halaman gereja penuh dengan mobil pemadam kebakaran, densus 88 dan PMI. Beberapa anggota densus 88 yang sudah siap dengan segala perlengkapannya bersiaga mengelilingi gereja.
Gilang sampai di lokasi lima jam setelah kejadian terjadi. Komandan Poltak mamandangnya tajam. Gilang tahu, tidak seharusnya ia meninggalkan tugasnya tapi kondisi yang terjadi padanya membuat ia harus melakukan itu.
“Ada sekitar dua puluh jiwa yang disandera di dalam sana. Ada sekitar sepuluh teroris pula di dalam dengan persenjataan lengkap.” Komandan Poltak menerangkan. “Bagaimanapun caranya kamu dan anggotamu harus bisa mengeluarkan mereka tanpa ada yang terluka sedikitpun.”
Gilang mengangguk paham. “Pak. Saya mengambil keputusan untuk menembak teroris di dalam, ada ataupun tidak ada perlawanan.”
Kali ini komandan poltak mengangguk. Ia sebenarnya tahu apa yang Gilang hadapi di keluarganya. Namun, kondisi itu tidak berarti harus membuat Gilang mangkir dari tugasnya sebagai anggota densus 88.
Setelah mempersiapkan diri dengan persenjataan yang lengkap. Gilang dan beberapa anggota densus berjalan masuk ke dalam dengan mengendap-endap. Di telinganya terdengar jelas isak tangis para sandera. Gilang merasa bahwa isak tangis itu adalah isak tangis dirinya pula yang sama-sama disandera oleh kenyataan yang tidak pernah dibayangkan olehnya. Letak perbedaannya adalah hatinya tidak bisa dibebaskan seperti saat ia hendak membebaskan para sandera saat ini.
“Kita bergerak ke tempat penyanderaan, jangan sampai dari mereka ada yang terluka. Kita hanya diperbolehkan menembak mereka yang bersenjata dan berdiri, mereka pasti teroris.. Tembak saja,” kata Gilang melalui handytalky.
Pembebasan sandera itu tidak berlangsung lama setelah diiringi beberapa adu tembakan dari densus 88 maupun kelompok teroris. Gilang berhasil membawa korban penyanderaan keluar. Namun ternyata belum selesai.
“Anakku! Anakku! dia masih di dalam.” Seorang ibu menangis di hadapan Gilang. Tanpa berpikir panjang Gilang masuk kembali ke dalam. Gilang menuju ke tempat penyanderaan, tapi ia tidak menemukan seorangpun di sana.
DOR!
AAKH!
Sebuah peluru menembus kulit betis Gilang. Ia jatuh dan merasakan sakit yang teramat sangat. Untuk pertama kalinya ia ditembak sebagai angota kepolisian.
“Akhirnya kesempatan ini datang.” Suara seorang perempuan menyentak Gilang dari sakitnya. Ayu. Istrinya. Gilang mencari sumber suara dan mendapat Ayu berjalan ke arahnya dengan sebuah pistol di tanganya.
“Ayu. Apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu ada di sini?”
Ayu tertawa. “Kau bertanya apa yang aku lakukan dan mengapa aku di sini?” Ayu kembali tertawa. “Seharusnya aku yang bertanya padamu, bagaimana kau bisa diangkat sebagai anggota densus, padahal kau pernah membunuh seorang bapak?”
Gilang terkejut. “Aku tidak pernah melakukan itu. Maksudmu apa?”
Ayu menggeleng kecil. “Sebegitu cepat kau melupakan kejadian itu? Biar aku jelaskan. Dulu kau pernah mengejar seorang pencuri, karena posisimu teramat jauh dari pelaku kau menembakinya. Namun, peluru itu tidak tepat sasaran. Justru peluru itu menuju seorang bapak yang sedang asik bermain dengan anaknya. Bapak itu adalah ayahku.”
Gilang terdiam. Pikirannya berputar kembali pada kejadian di mana ia baru menjadi seorang polisi. Memang benar, ia pernah menembak seorang pelaku pencurian, ia tahu peluru itu tidak mengenai pelaku tapi ia tidak tahu kalau peluru itu justru membunuh seorang bapak dan bapak itu adalah ayahnya Ayu.
“Kau tentu tahu bagaimana rasanya kehilangan seorang Ayah. Tapi tentunya kau tidak tahu betapa rasa sakit itu lebih dalam dari pada kehilangan ketika aku harus tahu bahwa yang menembak adalah anggota kepolisian yang seharusnya menjaga negara dan warga-warganya.
Sekarang aku mau meruntuhkan rasa sakitku dengan menembak dirimu, seperti kau menembak ayahku dulu.” Ayu menodongkan senjatanya ke arah Gilang.
DOR!
Gilang tersungkur. Di sisa nafasnya yang tinggal satu per satu mengantri keluar masuk dadanya, hanya seorang wajah perempuan yang dibayangkannya, ibunya.

Kalau kamu sudah berhasil mencapai mimpi kamu, jangan lupa pulang ya nak.
Hanya kamu satu-satunya yang ibu punya.
Ibu selalu menunggumu dirumah, nak.

Harapan Indah, 3 Desember 2017

Komentar