KATA & KITA

Karya: Burung Gereja

-Nandar-

“Cinta bukan hanya sebatas kata yang kau tuang dalam puisi. Kau perlu mencurahkan dirimu secara utuh ke dalamnya agar ia tahu bahwa kau benar-benar menginginkannya. Namun, kau harus ingat bahwa Kau tidak bisa membatasi pergerakannya sampai ia benar-benar tahu di mana ia perlu menyerahkan seluruh keutuhannya demi sebuah jiwa.”
Aku menatap gadis pirang yang duduk di hadapanku. Nama gadis itu Laras. Sahabat perempuanku satu-satunya. Kami berkenalan ketika mengikuti sebuah acara sastra di Jogja. Kala itu kami sama-sama menjadi pembicara. Setelah berkenalan dan bercerita panjang lebar ternyata kami berkuliah di kampus yang sama dan mengambil jurusan yang sama pula hanya berbeda kelas.
Aku sampai di rumahnya beberapa jam yang lalu, setelah menjadi pembicara di salah satu acara sastra di kota Padang. Seharusnya Laras ikut bersamaku, namun ia berhalangan karena ada acara keluarga yang tidak bisa ditinggalkan. Kedatanganku ke rumahnya juga atas permintaannya untuk menceritakan berlangsungnya acara sastra yang sudah ia tunggu sejak lama itu. Namun, yang kuceritakan bukanlah acara itu melainkan isi hatiku tentang cinta. Cinta kepada seorang gadis di kelasku, Putri namanya.
“Tentang cinta saja kau tak tahu. Kau membuatku tidak yakin bahwa kau adalah Nandar yang kukenal dengan puisi-puisi romantisnya.” Laras mengucapkan itu dengan sungguh-sungguh. Kentara sekali dari cara ia berbicara sehingga membuatku seperti ditusuk dengan pedang bermata dua.
Aku mengalihkan pandanganku ke arah setangkai mawar yang layu di belakang Laras sambil mencoba mencerna kata demi kata yang hampir tidak kupahami sama sekali. Namun, bukannya mencerna kata-kata Laras aku malah tenggelam menatap mawar hitam itu. Aku melihat kelopak mawar itu tetap berada di tangkainya yang masih bertahan kokoh bersama kawanannya. Sepertinya mawar itu tidak ingin lepas dari tangkainya atau sebaliknya tangkai itu yang tidak ingin melepaskan mawar itu walau telah layu. Apakah mawar dan tangkai itu memiliki cinta dan mereka telah menyerahkan seluruh keutuhannya? Seperti itukah harusnya?.
Perlahan aku membayangkan diriku dan Putri yang tidak sama seperti mawar dan tangkai itu. Kami tidak pernah berbicara, bahkan sekadar bertukar nama saja tidak pernah. Aku hanya mengetahui namanya ketika dosen mengabsen mahasiswa di kelasku satu per satu. Dari sanalah aku jatuh cinta padanya, tentunya pada pandangan pertama. Lalu untuk menjadi seperti mawar atau tangkai itu, yang saling mempertahankan satu sama lain, itu dia.
“Mawar dan tangkai. Bagaimana aku bisa menjadi seperti mereka?” Aku menatap Laras tepat di kedua bola hitam matanya yang bingung bertanya-tanya.
“Kau tidak mendengar perkataanku dan sibuk dengan alam pemikiranmu sendiri. Sudahlah. Lupakan saja. Aku tidak mengerti ke mana kau mau melangkah.” Laras memalingkan wajahnya.
“Kau lihat itu. Lihatlah mawar dan tangkai yang saling mempertahankan itu. Bukankah mereka serasi dan romantis. Bukankah seperti itu juga maksud dari perkataanmu tadi, bahwa cinta harus menyerahkan secara utuh dirinya untuk orang yang ia cintai. Benar begitu?" aku mencoba mengulangi perkataan Laras dengan bahasaku. Laras melihat sejenak setangkai mawar yang layu di belakangnya kemudian melihat ke arahku dengan pandangan serius.
“Semoga kau mengerti maksud perkataanku tadi. Tapi ingatlah bahwa hal sekecil apapun yang ada di sekitarmu akan membawamu ke arah cinta yang sesungguhnya. Jadi, sadarlah dan cobalah untuk peka.”
****
-Nandar-
Aku sudah memejamkan mataku tapi tetap saja aku masih terjaga. Bahkan setelah kusadari tidak ada rasa kantuk yang mampir di tubuhku malam ini. Kata-kata laras tadi siang seperti secangkir kopi hitam yang mampu membuatku terjaga saat aku harus mengerjakan laporan-laporan yang sudah berada di tenggat waktunya. Tapi ini berbeda.
Aku bangun dan meraih laptopku di meja belajar, berharap bisa membuat racikan obat tidur melalui sebuah puisi. Namun setelah beberapa menit berlalu tidak ada sepatah atau satu katapun yang kutempatkan di kertas putih di layar laptopku. Bersih. Aku merasa bahwa pikiran, tangan dan laptopku menjadi jiwa-jiwa asing yang tidak ingin berkerjasama untuk menidurkan diriku.
Hening menyelubungi kamarku. Aku masih duduk di hadapan layar laptopku sambil memainkan pulpen di tanganku. Bingung, gelisah, dan marah menyatu dalam kepala dan hatiku. Serumit inikah cinta atau aku yang tidak benar-benar paham tentang cinta?, gumamku. Kemudian aku beranjak menuju beranda kamarku, tempat di mana aku mengheningkan diri untuk mencari bahan-bahan tulisanku. Belum sempat kubuka pintu yang menghalangi kamar dan beranda kamarku. Aku menyadari bahwa ada sebuah kotak dengan bungkusan berwarna coklat di samping rak sepatu. Aku meraihnya.
Bungkusan itu adalah kiriman dari komunitas pena jiwa. Komunitas sastra yang dibentuk oleh anak-anak SMA di Jogja. Dua tahun lalu aku baru bergabung di sana. Aku baru ingat beberapa bulan lalu aku mengikuti lomba cipta puisi dan aku meraih juara pertamanya. Aku tidak sabar melihat karya teman-teman penulis lainnya, seperti kebanyakan lomba yang kuikuti sebelumnya. Segera kubuka bungkusan itu dan mendapati sebuah buku dan sertifikat dengan cetak tebal namaku di atasnya.
Pada halaman daftar isi aku menemukan nama Laras tercetak di sana. Laras Kusuma Cahaya. Dahiku seketika membentuk beberapa polisi tidur yang berderet rapi. Setahuku Laras tidak ikut bergabung bersama komunitas ini. Mungkin dia baru bergabung, gumamku. Tanpa pikir panjang aku segera mencari puisi miliknya di halaman tengah.
SUARA HATIKU. Teruntukmu hai tuan yang berada di sampingku. Bagaimana kita bertemu dan bagaimana kita mengenal satu sama lain/kau telah menyemai benih cinta dalam hatiku/dalam ketidaksadaran sebab hatimu bukan memilihku//Aku tidak dapat bersuara/sekadar menyampaikan isi hatiku/kulawan dengan dalih senyummu/senyummu yang berbinar memenjarakan gadis lain dalam kata-katamu//Terlalu pahit untukku menahan/Kita yang tak lebih dari kata 'sahabat'.
Lama aku tenggelam dalam barisan kata milik Laras. Wajahnya muncul dalam benakku dengan paras datar yang tidak pernah kutemukan sebelumnya. Tentunya ketika kami bersama. Kau bukan Laras, Hardikku. Tapi wajah itu tetap saja datar. Lalu perlahan wajah itu terkelupas satu demi satu sebab angin berhembus kencang menerpa wajahnya. Sebelum wajah Laras hilang, kulihat bibirnya bergetar ingin menyampaikan sesuat tapi terlambat. Angin kencang itu lebih dulu melenyapkan seluruh wajahnya.
Lalu kulihat diriku sendiri dalam benakku. Aku berlari di sepetak jalan di tengah hutan belantara. Wajahku gelisah sambil menahan ketakutan dari sesuatu yang mengejarku di belakang. Tapi aku tidak tahu apa yang mengejarku, aku hanya ingin terus berlari. Berlari sampai aku menemukan tanah lapang luas. Tapi tanah lapang itu tidak pernah ada. Aku menemukan diriku berakhir di sebuah labirin kaca. Aku melihat wajahku sendiri dalam ketakutan yang teramat sangat. Aku pun takut melihat diriku.
Mengapa aku takut dan gelisah padahal aku tidak melakukan apa-apa. Ada apa sebenarnya? Aku merebahkan punggungku di salah satu sisi kaca labirin itu. Perlahan kupejamkan mataku dan melihat kegelapan. Tunggu, ada sebuah titik cahaya di ujung sana, aku berkata pada diriku sendiri. Tanpa pikir panjang kulangkahkan kakiku dengan keraguan menuju cahaya itu. Aku mendapati cahaya itu adalah barisan kata. K-A-T-A. Tegak menjulang dan bersinar terang. Aku semakin tidak mengerti.
Puisi Laras. Sahabat. Tuan. Di sampingku. Untuk siapa puisi itu? Aku melihat ke sekelilingku. Hanya ada cahaya yang terang. Cahaya dari k-a-t-a. Itu dia.
Laras.
Sahabat.
Puisi.
Tuan.
Pilihan.
Kegelisahan.
Aku.
***
-Laras-

Aku lebih mencintai dirinya dari pada apa yang ia tahu, bahkan aku lebih mencintainya ketimbang aku mencintai diriku sendiri. Pertemuan pertama, kebersamaan, kebahagiaan bersama, kesedihan bersama, semuanya seperti takaran penyubur yang sengaja dipersiapkan dan dikerjakan Tuhan untuk mengindahkan ladang cinta dalam hatiku. Pertemuan pertama yang langsung memberi suntikan ekstra pada hatiku telah menahan diriku untuk tidak pernah berpaling pada lelaki manapun. Tapi tidak untuk dirinya.
Apakah ini kelemahan wanita yang takut mengungkapkan perasaannya pada orang yang ia cinta. Sebegitu sensitifnya hati wanita yang takut terpuruk dalam kesedihan bila cinta yang ia inginkan tidak tersampaikan. Itu terjadi padaku. Sudah lama dan begitu menyesakkan ketika telinga ini harus mendengar ia mencintai wanita lain. Dan aku berpura-pura tabah seolah tidak terjadi apa-apa dalam diriku, dalam hatiku. Aku malah mendukungnya dan memberinya saran bla-bla-bla-bla. Ah! Kau tidak adil, Tuhan.
Aku memutuskan untuk tidak masuk kuliah hari ini. Aku takut kalau menemukan Nandar bersama putri sedang duduk berdua dan tertawa bersama. Berpegangan tangan, merangkul dan melakukan segala kegiatan seperti dua insan yang sedang berpacaran.  Aku tidak mau. Aku lebih memilih untuk diam di rumah dan mengumpulkan apa saja untuk menembok hatiku yang retak dari hari ke hari. Air mata seketika mengalir di pipiku. Aku sudah tidak kuat.
"Non, ada Den Nandar tuh di luar." Suara bi Rum dari luar kamar menganggetkanku. Dan kata 'Nandar' membuat aku kaku seketika.
***
-Nandar-

Aku terpaku sejenak ketika melihat Laras berdiri di bingkai pintu. Matanya sedikit memerah, kupikir ia baru bangun dari tidur. Antara canggung dan bingung aku hanya menatapnya dan berusaha melengkungkan bibirku. Sudah berjam-jam lalu aku berusaha mencari kata-kata untuk mendalami dan membenarkan pikiran yang menimbun dalam kepalaku tapi tidak kunjung kutemukan. Dan Laras mulai menatapku dengan bingung. Aku harus memulainya.
"Ras... kita... Tidak,tidak. Aku... Aku sadar bahwa aku bukan cowok romantis. Bila kau temukan aku romantis dalam puisiku, aku harus katakan bahwa benarlah kata-kata dalam puisiku adalah kata-kata yang aku racik sedemikian rupa agar ia menjadi romantis. Tapi tidak dalam kenyataannya, aku bingung bagaimana meraciknya.
Ras. Maaf kalau aku terlambat peka untuk menyadari perasaanmu padaku. Sekarang aku tahu di mana aku perlu menempatkan cintaku secara benar dan tidak perlu dihantui kegelisahan lagi yaitu pada dirimu. Aku mau kita lebih dari sebatas..."
BUG!. Laras memelukku erat. 'Tidak ada kata terlambat, karena pada akhirnya aku tahu kau akan datang dan mengatakan demikian."


Harapan Indah, 29 November 2017

Komentar